Ubah BahasaEnglish|Bahasa Indonesia
Bahasa dan Kecerdasan Artificial adalah Kunci Menuju Intelligence Economy
Insights

Bahasa dan Kecerdasan Artificial adalah Kunci Menuju Intelligence Economy

Muhammad SodikMuhammad Sodiktanggal 25 Agustus 2020

Kecerdasan artifisial atau yang biasa disebut artificial intelligence (AI) merupakan salah satu inovasi teknologi di era modern yang mulai dikembangkan oleh banyak negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, teknologi AI mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditunjukkan dengan pengaplikasiannya di berbagai bidang, seperti pendidikan, hiburan, hingga kesehatan.

Salah satu contoh penerapan teknologi AI adalah pada proses klaim asuransi smartphone di aplikasi Qoala. Apabila pelanggan Qoala ingin klaim asuransi smartphone yang rusak, mereka hanya perlu mengirimkan video kondisi smartphone tersebut dan selanjutnya sistem berbasis teknologi AI ini akan mengidentifikasi video yang dikirim oleh pelanggan. Hanya dalam hitungan menit, pengguna akan mengetahui hasilnya apakah smartphone tersebut rusak dan layak untuk diklaim atau tidak.

Sebagai perusahaan conversational AI yang memiliki fokus dalam mengembangkan teknologi asisten virtual, CEO & Co-Founder Kata.ai – Irzan Raditya, berkesempatan untuk berbagi insights tentang teknologi conversational AI Kata.ai dalam Instagram Live yang digelar oleh Qoala, dengan tema “Help Conversations Turned Into Conversions.” Acara ini dipandu langsung oleh Cliff Sutantijo yang merupakan VP Marketing Qoala. Dalam Instagram Live tersebut, Irzan berbagi cerita tentang bagaimana teknologi Kata.ai telah membantu perusahaan dari berbagai industri untuk mengembangkan asisten virtual yang kaya akan fungsi. 

“Misi kami adalah memaksimalkan potensi manusia melalui kekuatan bahasa dan teknologi. Fokus Kata.ai adalah NLP (Natural Language Processing), kemampuan komputer memahami bahasa manusia secara natural. Karena kita percaya bahasa adalah perangkat terkuat yang manusia bawa sejak lahir. Bahasa adalah kunci menuju intelligence economy,” ungkap Irzan.

Di dalam diskusi tersebut, Irzan juga menyampaikan, jika Indonesia ingin berkembang dengan teknologi AI, sebaiknya fokus pada pengaplikasian AI di sektor industri. Dengan begitu, Indonesia bisa punya daya saing untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan mengaplikasikan teknologi AI di berbagai sektor, termasuk insurtech.

“Teknologi AI juga akan memberikan nilai ke dunia insurtech, tidak hanya sebatas transaksional. Teknologi AI bisa memberikan end-to-end customer experience, memberikan pengalaman yang menyenangkan, mulai dari ketika seseorang membeli polis asuransi sampai nanti merasakan benefit dari asuransi tersebut,” tambah Irzan.

Cliff Sutantijo mengapresiasi komitmen Kata.ai dalam mendukung lebih dari 120 perusahaan dari berbagai industri melalui teknologi AI yang dikembangkan. Bahkan Kata.ai juga turut membantu Pemerintah dalam merumuskan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA). Strategi Nasional ini disusun bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kemenristek BRIN, Lembaga Pemerintah, industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mewujudkan Visi Indonesia 2045.

“Hal ini merupakan sebuah lompatan untuk mengejar negara lain yang selangkah lebih maju dalam pengembangan teknologi AI. Kami mendukung penuh pengembangan teknologi AI di Indonesia. Khusus untuk dunia insurtech, kami berharap AI bisa mengubah persepsi orang bahwa asuransi itu penting untuk melindungi kita dari hal yang tidak diinginkan. Saya optimis Indonesia akan mengadopsi AI secara matang dan bisa diterima seluruh masyarakat,” ujar Cliff.

Tak bisa dipungkiri, lanjut Cliff, pengembangan teknologi AI di Tanah Air untuk sektor insurtech masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain.
“Di negara lain, teknologi AI sudah diaplikasikan lebih dulu di dunia asuransi dan lebih canggih. Contohnya, untuk asuransi kesehatan, premi didasarkan pada riwayat kesehatan. Nah, negara lain itu punya teknologi AI berupa facial recognition (pengenalan wajah) yang bisa mengetahui level merokok seseorang. Semakin tinggi level kebiasaan merokoknya, premi asuransi kesehatannya semakin besar,” papar Cliff.