Ubah BahasaEnglish|Bahasa Indonesia
INTERACT 2020: Shaping Tomorrow’s Trend Through Automation
Bisnis

INTERACT 2020: Shaping Tomorrow’s Trend Through Automation

Fiqih PrawiraFiqih Prawiratanggal 1 Desember 2020

Pandemi COVID-19 telah melanda hampir semua negara di dunia di tahun 2020, dan berdampak pada sektor kesehatan  dan ekonomi, masyarakat pun diimbau untuk tetap di rumah dan mengikuti anjuran pembatasan. Di sisi lain, pelaku bisnis terpaksa harus mencari strategi baru untuk mempertahankan operasionalnya dan melalui badai pandemi ini.

Karena itu, di tahun ini Kata.ai menyelenggarakan acara INTERACT 2020 secara virtual untuk pertama kalinya pada hari Rabu, 25 November 2020, dengan tema “Shaping Tomorrow’s Trend Through Automation”. Di momen tersebut, kami berbagi update tentang perkembangan teknologi dan produk terbaru Kata.ai, sekaligus mengumpulkan inovator dan pengambil keputusan untuk mendiskusikan solusi atas permasalahan kritis lintas industri, termasuk bagaimana cara memajukan bisnis di tengah krisis global yang sedang melanda.

INTERACT 2020 Opening

Menteri Riset dan Teknologi Indonesia Bambang Brodjonegoro, yang juga merupakan kepala dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membuka acara INTERACT tahun ini. Dia berharap bahwa acara tahunan ini dapat menjadi tempat berkumpul bagi para antusias teknologi dan Kecerdasan Artifisial (AI), dimana mereka bisa mendapatkan informasi dan insights terbaru mengenai perkembangan dan inovasi terbaru seputar AI.

Hammam Riza, kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyampaikan harapan yang sama dengan Bambang, meyakinkan bahwa memajukan riset dan teknologi akan membawa dampak positif terhadap perekonomian Indonesia yang menurut Hammam sangat didorong oleh inovasi. BPPT juga menyatakan bahwa BPPT akan memprioritaskan perkembangan teknologi AI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Keynote Speeches

Di sesi keynote pertama, CEO dan Co-Founder Kata.ai, Irzan Raditya berbicara tentang bagaimana kontribusi Kata.ai terhadap tren adopsi teknologi conversational AI, baik dalam penggunaan untuk enterprise maupun pemerintahan. Menurut Irzan, beberapa bisnis besar mampu meningkatkan interaksi dengan pelanggan dan mengurangi biaya operasional dengan mengadopsi Kata Conversational Suite yang memungkinkan perusahaan membuat chatbot  sesuai dengan kebutuhan mereka.

CTO Kata.ai, Pria Purnama  juga berbagi mengenai perkembangan teknologi terbaru dari Kata.ai, termasuk pembaharuan terhadap fitur project dashboard dari Kata Platform, fitur baru lainnya di modul frequently asked questions (FAQ), dan analitik yang sekarang memungkinkan chatbot untuk menjawab pertanyaan dengan gambar atau teks panjang hingga mengidentifikasi pengguna baru. Dengan akses ke Instagram API, Kata.ai juga sekarang dapat mengintegrasikan solusi omnichannel-nya dengan platform media sosial populer tersebut.

Pria juga membagikan beberapa bocoran mengenai hasil riset dan inovasi terbaru dari Kata.ai,  termasuk pengembangan chatbot dengan “kepribadian” yang mampu berbicara dengan gaya yang berbeda. Teknologi ini yang sedang dikembangkan tersebut dapat meningkatkan kemampuan AI untuk memahami percakapan Bahasa Indonesia dengan gaya informal.  Tim riset dan inovasi kami juga bereksperimen dengan AI yang memiliki tingkat kreativitas tinggi hingga mampu menciptakan puisi dan berkelakar dengan pengguna.

Para leaders dari Kata.ai juga menyampaikan beberapa hal lain dalam keynote speeches-nya, salah satunya adalah pendanaan Seri B yang didapatkan tahun ini dengan dipimpin oleh Trans-Pacific Technology Fund (TPTF), MDI Ventures, Buana Investama dan investor lain. Kata.ai akan menggunakan hasil pendanaan tersebut untuk terus mengembangkan solusi untuk enterprise sekaligus mengenalkan inovasi terbaru untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang merupakan tulang punggung dari perekonomian Indonesia, yaitu platform social commerce Qios.

Qios – Platform Chat Commerce Untuk UKM yang didukung Automatisasi

Di sesi Keynote Speech-nya, COO dan Co-Founder Kata.ai, Wahyu Wrehasnaya, memperkenalkan Qios, platform social commerce terbaru dari Kata.ai yang didukung otomatisasi dan ditujukan untuk bisnis-bisnis kecil dan menengah di Indonesia.

Qios dapat menyediakan informasi mengenai usaha tersebut kepada pelanggan dan mengotomatiskan pembelian sekaligus memberikan analitik pengguna yang dapat menguntungkan UKM. Qios juga menawarkan integrasi dengan platform chat, layanan pengiriman, dan penyedia e-wallet yang populer di Indonesia untuk memudahkan konsumen dan penjual.

Kata Wahyu, saat ini kami sedang melakukan percobaan beta Qios dengan Toko Kopi Tuku, salah satu kedai kopi waralaba terpopuler di Indonesia. Qios mempercepat waktu pemesanan lewat WhatsApp yang awalnya memakan waktu rata-rata 28 menit, menjadi hanya 2 menit. Dengan Qios, Toko Kopi Tuku juga mampu memanfaatkan WhatsApp, aplikasi chat terpopuler di Indonesia, sebagai saluran interaksi langsung dengan konsumen sembari mengelola database pelanggan dan menganalisis perilaku pembelian mereka.

Wahyu berharap, Qios dapat membantu dan memudahkan pelaku bisnis UKM untuk berjualan online dan menjangkau lebih banyak pelanggan. Dengan jumlah UKM di Indonesia yang terus berkembang, mencapai lebih dari 64 juta di tahun 2018 dan meliputi 99% pelaku usaha di Indonesia, Qios diharapkan dapat meningkatkan adopsi teknologi dan digitalisasi UKM yang diprediksi akan meningkatkan produk domestik bruto (PDB) hingga Rp 2.4 triliun di tahun 2024.

Fireside Chat

CMO dan Co-Founder Kata.ai, Reynir Fauzan, juga menggelar sesi fireside chat pertama di INTERACT bersama Amazon Web Service (AWS) Indonesia Country General Manager Gunawan Susanto, dimana mereka berdua membicarakan mengenai bagaimana inovator-inovator di ekosistem startup indonesia telah membuka jalan ke berbagai terobosan dan inisiatif digital baru.

Mereka juga mendiskusikan tantangan bagi perusahaan rintisan teknologi di Indonesia dalam memasarkan inovasi yang mereka buat ke bisnis-bisnis konvensional. Gunawan mengatakan, bahwa startup perlu mengkomunikasikan dengan baik bagaimana produk mereka dapat menguntungkan bisnis konvensional tersebut, memberikan contoh ketika AWS meyakinkan perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk beralih dari solusi berbasis hardware ke investasi di cloud computing.

Diskusi Panel

Terdapat juga sesi diskusi panel di acara INTERACT 2020, dimana kami mengundang pembicara dan pakar bisnis dari berbagai industri untuk mendiskusikan peluang dan tantangan bisnis di tengah krisis COVID-19.

Dalam membahas mengenai meningkatnya adopsi otomatisasi untuk manajemen bisnis, Budi Satria Isman, CEO dari perusahaan investasi Mikro Investindo Utama, mengatakan bahwa selain meningkatkan kapasitas bisnis secara keseluruhan, UKM juga harus mempertimbangkan teknologi ketika menyusun rencana bisnis agar bisa bertahan di tengah pasar yang sangat kompetitif.

Andanu Prasetyo, pendiri dari Toko Kopi Tuku, menambahkan bahwa tantangan bagi UKM bukan hanya dalam memulai bisnis dengan keahlian teknologi yang terbatas, tapi juga menyesuaikan kapasitas operasi bisnis saat ada lonjakan yang biasanya terjadi ketika bisnis mulai mengadopsi teknologi yang lebih canggih.

Dalam sesi panel kedua, para panelis mendiskusikan tentang tantangan yang mungkin harus dihadapi bisnis di tahun 2021 karena banyak negara-negara di dunia yang masih berusaha meredam pandemi COVID-19. 

Misalnya, Theresia Tanzil, Solution Architect Team Lead dari penyedia layanan scraping web ScrapingHub, mengatakan bahwa meskipun perusahaannya telah lama menerapkan budaya remote-working sehingga permintaan untuk bekerja dari rumah tidak mempengaruhi produktivitas dan koordinasi, namun pengurangan klien juga terjadi karena pemotongan anggaran yang memaksa beberapa proyek untuk ditunda atau dibatalkan.

Evan Purnama, CTO dan Co-Founder dari platform percakapan multichannel Qiscus, mengatakan bahwa meskipun ketidakpastian yang diakibatkan oleh pandemi kemungkinan akan terus menghantui bisnis hingga tahun depan, pelaku usaha seharusnya lebih bisa memprediksi perilaku konsumen dan penanganan COVID-19 dengan lebih baik. 

Di sesi ini, Ignatia Suwarna, VP of Engineering dari penyedia jasa uang elektronik DANA Indonesia menyampaikan sentimen yang sama, menekankan bahwa bisnis harus fokus tidak hanya dalam bagaimana bisa bertahan di tengah pandemi, namun juga bagaimana cara untuk maju.

Selain di sektor UKM, krisis COVID-19 juga sangat berdampak di industri kesehatan dan pendidikan karena pandemi memaksa orang untuk tetap di rumah, sehingga kegiatan belajar mengajar langsung atau pemeriksaan kesehatan di tempat pun terpaksa ditunda. Namun, peningkatan besar-besaran dalam interaksi sosial melalui platform digital juga menghadirkan ruang bagi para pemain di industri-industri tersebut untuk berinovasi.

Sesi diskusi panel ketiga membahas mengenai bagaimana pemain di kedua industri tersebut bisa memanfaatkan era keemasan interaksi manusia virtual saat ini. Ritchie Gunawan, VP of Business and Operations dari startup edukasi online Ruangguru, mengatakan bahwa era keemasan ini membawa peluang besar bagi Ruangguru untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu pemerataan akses pendidikan di seluruh Indonesia.

Rosi Setyo Nugroho, Product Management Lead dari platform telemedicine berbasis AI Prixa, mengatakan bahwa pandemi COVID-19 menantang pelaku industri kesehatan untuk berinovasi dan menemukan bagaimana cara untuk tetap menyediakan layanan kesehatan yang tetap dibutuhkan tanpa mengharuskan pasien untuk datang ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki resiko penularan tinggi. 

Dalam menghadapi tantangan ini, Staf Khusus Menteri Riset dan Teknologi Danang Rizki Ginanjar mengatakan bahwa pemerintah telah memberikan dukungan regulasi, termasuk dengan meluncurkan portal “Satu Data Indonesia” pada tahun 2019 dan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (StranasKA) di tahun ini.

Sesi diskusi panel terakhir membicarakan mengenai bagaimana bisnis dan pelaku industri melihat peluang peluang tersembunyi di tengah banyaknya tantangan di tahun 2020. Misalnya, Viviek Thomas dari perusahaan analitik AI dan big data AiSensum mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas digital selama pandemi juga menyebabkan meningkatnya kegiatan digital marketing, terutama dalam performance marketing karena perusahaan berusaha membuat upaya pemasaran digital mereka lebih efisien.

Shinta Nurfauzia, Co-CEO dan Co-Founder dari produsen makanan sehat Lemonilo, mengatakan bahwa perusahaannya juga melihat peningkatan permintaan atas produknya akibat meningkatnya kesadaran orang akan pentingnya gaya hidup sehat di tengah pandemi. Daniel Cahyadi, COO dan Co-Founder dari Wahyoo, platform e-commerce yang fokus untuk menyediakan bahan baku ke warung-warung, menambahkan bahwa terjadi peningkatan permintaan dari warung untuk mengadopsi teknologi yang ditawarkan Wahyoo selama pandemi COVID-19.

Pengumuman pemenang KataHack 2.0

Di INTERACT 2020, Kata.ai juga mengumumkan pemenang hackathon KataHack 2.0 yang dimulai pada 19 Oktober 2020. Kompetisi ini mengumpulkan 49 tim developer dan inovator yang mengajukan ide-ide untuk memecahkan masalah di bidang bisnis, kesehatan, dan pendidikan menggunakan Teknologi Kata.ai. 

Kata.ai juga menyediakan sesi pelatihan online untuk 15 tim terpilih sehingga mereka dapat lebih memahami dan memanfaatkan teknologi Kata.ai secara maksimal.

Dari lima tim yang terpilih untuk masuk ke babak final, Kata.ai memilih tiga tim pemenang yang mempresentasikan ide dan proyek terbaik. Inilah tiga pemenangnya:

Juara 1: Pals – aplikasi Pals

Aplikasi “Pals” yang dikembangkan oleh tim Pals bertujuan untuk membuat komunikasi dengan orang lain lebih mudah bagi penderita Cerebral Palsy, gangguan gerakan permanen yang juga dapat menghalangi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi. Dengan aplikasi ini, penderita Cerebral Palsy dapat menjawab pertanyaan dengan jawaban kontekstual yang disajikan dalam user interface yang ramah.

Juara 2: Tajong.AI – aplikasi Hafalin

Tim Tajong.AI membuat aplikasi web “Hafalin” yang dapat membantu para orang tua dalam mengevaluasi proses belajar anaknya, terutama dalam subjek hafalan. Dari teks subjek pembelajaran, Hafalin dapat mengekstrak dan menghasilkan pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda atau esai untuk menguji pemahaman anak tentang materi pelajaran yang diberikan.

Juara 3: Peka.AI – Peka.AI chatbot dan aplikasi web

Chatbot “Peka.AI” yang diperkenalkan oleh tim Peka.AI dapat membantu pengguna memprediksi risiko kanker payudara berdasarkan beberapa faktor kesehatan dan memberikan rekomendasi pemeriksaan. Peka.AI juga menyediakan aplikasi web yang berisi materi edukasi untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman pengguna tentang kanker payudara.

Kami mengucapkan selamat kepada semua pemenang KataHack 2.0. Kami tidak sabar untuk melihat lebih banyak inovasi dan terobosan yang dikembangkan dengan solusi Kata.ai oleh para pemenang, peserta, dan developers lainnya.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembicara, panelis, dan peserta yang telah mengikuti INTERACT 2020. Peserta yang melewatkan sesi live INTERACT dapat menyaksikan kembali konferensi lengkapnya di website kami. Sampai berjumpa lagi di INTERACT 2021!