Ubah BahasaEnglish|Bahasa Indonesia
2021: Tahun Pemulihan
Insights

2021: Tahun Pemulihan

Fiqih PrawiraFiqih Prawiratanggal 16 Desember 2020

Banyak orang mengatakan bahwa tahun 2020 merupakan tahun yang sangat  berat, terutama karena sepanjang tahun ini, kita dihadapkan dengan pandemi COVID-19, krisis kesehatan global , yang berdampak besar terhadap aktivitas sosial dan ekonomi  dan dirasakan oleh hampir semua orang di dunia.

Begitu juga dalam dunia bisnis, pandemi COVID-19 telah mempengaruhi hampir semua sektor perekonomian, dengan dampak yang luar biasa dan terjadi di berbagai sektor seperti industri pariwisata, kesenian dan hiburan, serta pendidikan. Bahkan banyak perusahaan yang sebelumnya tidak memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah, mengharuskan karyawannya untuk tetap produktif dan beradaptasi dengan situasi baru ini..

Dengan berakhirnya tahun 2020 sebentar lagi, para analis, pakar, dan pemerintah memprediksi bahwa dampak dari pandemi COVID-19 masih akan berlangsung hingga tahun depan. Namun, banyak juga dari mereka yang menaruh harapan  pada tahun 2021 sebagai tahun penuh harapan, di mana ekonomi di seluruh dunia akan berangsur pulih.

Jalan Indonesia Menuju Pemulihan di Tahun 2021

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan bahwa tahun 2021 akan menjadi tahun pemulihan ekonomi bagi Indonesia. Dengan datangnya vaksin COVID-19  pada pertengahan bulan Desember ini, Pihak Kementrian Keuangan pun mengatakan beberapa indikator penguatan ekonomi akan mulai terlihat pada kuartal keempat tahun 2020 dan berlanjut hingga tahun 2021.

Banyaknya berita mengenai perkembangan vaksin dan beberapa regulasi baru di Indonesia, penyedia layanan perbankan JP Morgan Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 4% di tahun 2021, lebih tinggi dibandingkan prediksi sebelumnya  yang memperkirakan pertumbuhan di sekitar 3%.

Meskipun banyak yang menaruh harapan pada tahun 2021 , namun beberapa tren bisnis di tahun 2020  diproyeksikan akan terus berlaku hingga tahun depan. Forbes mengatakan bahwa banyak perusahaan yang akan mulai mempertimbangkan kembali model bisnis mereka setelah melihat peningkatan produktivitas operasional.

“Namun, bekerja dari rumah tidak ideal untuk [sebagian] orang. Oleh karena itu, bisnis perlu menata ulang ruang kerja mereka serta memberikan dukungan yang tepat bagi karyawannya yang bekerja dari rumah, seperti dengan memfasilitasi mereka dengan peralatan yang tepat, dukungan kesehatan mental yang memadai, dan kebutuhan lain untuk memastikan setiap orang dapat bekerja dari rumah dengan nyaman.” tulis Forbes.

Menurut Forbes, para pemimpin bisnis  juga diharapkan dapat memperbaharui model bisnis nya  sesuai dengan pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan selama pandemi COVID-19. Mengingat bahwa bisnis yang bertahan dan tetap tumbuh adalah bisnis yang mampu beradaptasi dengan cepat.

“Meskipun bisnis harus selalu memikirkan tentang pergerakan pasar dan perubahan-perubahan , namun akan lebih penting bagi mereka untuk berinovasi dalam hal model bisnis di tahun depan.” dikutip dari Forbes.

Selain itu, penyedia solusi tenaga kerja Data Talent juga memprediksikan beberapa tren di ranah Artificial Intelligence (AI) yang akan muncul di tahun depan.

Tren AI Tahun 2021: Mulai dari chatbot yang lebih personal hingga mesin yang lebih canggih

Terkait dengan teknologi conversational AI, Data Talent mengatakan bahwa teknologi chatbot yang lebih personal—dengan kemampuan memahami sentimen pelanggan dan pemrosesan data yang lebih baik—diperkirakan akan meningkat mengikuti tren adopsi chatbot di tahun ini.

Conversational AI juga akan menjadi teknologi yang lebih memudahkan para penggunanya. Seperti halnya asisten personal AI milik Amazon, Alexa yang  digunakan oleh banyak orang dengan kemampuan yang lebih canggih dari sebelumnya.

Selain untuk penggunaan individu, banyak bisnis yang diperkirakan akan melakukan investasi besar-besaran ke dalam solusi conversational AI untuk mengoptimalkan bisnis dan operasional perusahaan mereka.

Tren tersebut juga sesuai dengan kisah sukses Kata.ai dalam membantu klien kami dalam meningkatkan efisiensi serta mengurangi biaya operasional. Misalnya, perusahaan telekomunikasi Indosat Ooredoo memanfaatkan chatbot INDIRA yang dikembangkan bersama Kata.ai untuk meningkatkan produktivitas dan operasional perusahaannya, dengan mengotomatisasi lebih dari 90%  interaksi customer engagement.

Selain penggunaan chatbot, industri prosesor komputer / CPU yang didukung oleh teknologi AI juga diprediksi akan semakin tumbuh, dengan nilai pasar yang diperkirakan mencapai US$100 juta pada tahun 2025. Prediksi tersebut seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang mulai  mengadopsi teknologi NLP, speech recognition, dan machine learning.

Dengan estimasi kerugian global yang ditaksir sebesar $8.1 triliun hingga $15.8 triliun akibat pandemi COVID-19, permintaan terhadap teknologi AI dan machine learning untuk sistem pengambilan keputusan yang lebih cerdas akan semakin meningkat.

Data Talent menambahkan bahwa teknologi AI secara umum akan mengambil peran yang lebih besar di tengah banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan dan meningkatnya adopsi remote working akibat pandemi COVID-19. Hal ini menuntut upaya lebih untuk meningkatkan kapabilitas tenaga kerja manusia, sehingga mereka dapat tetap menjadi peran utama dari interaksi antara teknologi AI dan manusia. Investasi ke penelitian AI juga diperkirakan akan meningkat untuk memastikan perkembangan AI yang lebih baik dan aman.

Secara umum, adopsi teknologi yang cepat akan terus mendorong upaya transformasi digital di dunia bisnis berdasarkan outlook dari Inc. yang mengatakan bahwa organisasi yang telah lama melakukan transformasi digital tidak terlalu terdampak oleh pandemi COVID-19 dan mampu beradaptasi lebih cepat.

Para pemimpin yang ahli  teknologi juga diharapkan akan meningkatkan upaya transformasi digital, yang memungkinkan mereka untuk bekerja lebih produktif untuk perusahaan. Mereka juga perlu memastikan agar perusahaan mereka siap menghadapi tantangan di masa depan. 

Sentimen yang sama juga berlaku bagi usaha kecil dan menengah, di mana pelajaran yang mereka dapatkan selama pandemi diharapkan akan membantu usaha kecil dan menengah (UKM) lebih mudah beradaptasi, bertahan, dan terus berkembang selama periode pemulihan di masa mendatang.

“Panggilan Digital” untuk para UKM.

Fenomena transformasi digital yang pesat juga terjadi di kalangan pebisnis UKM di Indonesia. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa per bulan November, ada sebanyak 10.2 juta UKM telah menggunakan online platform untuk bisnisnya. Di mana adopsi digital meningkat menjadi 16% dari sebelumnya sebesar 13% di awal tahun 2020.

Melihat kebutuhan yang mendesak terkait transisi digital bagi UKM di Indonesia, kami menghadirkan Qios, sub-brand baru Kata.ai yang diperkenalkan pada event INTERACT 2020 bulan lalu. 

Qios bertujuan untuk membantu UKM berjualan online dengan lebih mudah dan dapat menjangkau lebih banyak konsumen di dalam aplikasi WhatsApp dan Instagram. 

Dengan kemampuan otomatisasi layanan, Qios dapat membantu bisnis kecil dan menengah menangani interaksi dengan pembeli, mulai dari menjelajah produk  hingga layanan purnajual., Qios juga menyediakan fitur analitik yang dapat meningkatkan keterlibatan penjual dengan para pelanggan. Qios akan tersedia mulai tahun depan dan Anda dapat mengenal Qios lebih lanjut dengan mengunjungi www.qios.co.

Kesimpulannya, adopsi teknologi dan dorongan untuk terus berinovasi tampaknya akan menjadi kunci dalam menyambut “tahun pemulihan”. Setelah melewati tahun 2020 yang berat, baik dari aspek profesional maupun personal, tahun 2021 diharapkan akan menjadi tahun yang penuh peluang bagi kita untuk bangkit.

Dengan melihat berbagai tren yang diprediksi akan terjadi di tahun 2021, manakah solusi yang dapat diterapkan untuk bisnis Anda? Kami ingin mendengar pendapat dan strategi Anda untuk menyambut tahun depan!